Dukung Kebijakan Maritim Indonesia

STT Migas bersama UnHan Gelar Sosialisasi Terkait Nilai-Nilai Bela Negara

BALIKPAPAN- Guna menyampaikan wawasan kebangsaan dan mengajak mahasiswa untuk bersama-sama mengamalkan nilai-nilai bela negara dengan passionnya masing-masing. Sekolah Tinggi Teknologi Minyak dan Gas Bumi (STT Migas) Balikpapan bekerjasama Fakultas Keamanan Nasional dan Universitas Pertahanan Nasional Bogor. Mengelar Sosialisasi Nilai-Nilai Bela Negara yang dihelat di Gedung LPPM STT MIGAS Balikpapan, Jumat (28/2). Kegiatan tersebut merupakan inisiasi oleh Mahasiswa Program Studi Keamanan Maritim dan ikuti 154 mahasiswa yang berasal dari empat prodi jurusan di STT Migas.
Dalam sambutannya, Plt Sesprodi Keamanan Maritim Universitas Pertahanan, Kolonel Laut (KH) Dr Panji Suwarno SE MSi menyampaikan apresiasinya atas terlaksananya sosialisasi itu. Pasalnya, Indonesia merupakan negara maritim terbesar di dunia.
“Dan potensi maritim yang dimiliki oleh laut Indonesia sangat besar,” kata Panji.
Adapun lima poin peran mahasiswa untuk mengamalkan nilai-nilai dasar bela negara yaitu cinta tanah air, sadar berbangsa dan bernegara. Setia pada Pancasila sebagai Ideologi Negara, rela Berkorban untuk Bangsa dan Negara serta memiliki kemampuan awal bela negara. Selain itu, mengacu pada Undang-Undang No 23 tahun 2019 tentang Pengelolaan Sumberdaya Nasional untuk Pertahanan Negara. Di mana mahasiswa merupakan bagian dari komponen cadangan yang disiapkan untuk mampu menyokong kekuatan komponen utama (TNI 3 matra AL, AD, AU) dalam mempertahankan negara dan bangsa. Semoga melalui sosialisasi ini, mahasiswa dapat lebih memahami hakikat Indonesia sebagai negara kepulauan dan mampu mendukung Kebijakan Maritim Indonesia.
“Serta dapat mengamalkan nilai-nilai dasar bela negara dengan cara pengabdian pada profesi masing-masing yang kelak akan digeluti, ujarnya.
Terpisah, Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni STT Migas Balikpapan, Hamsir SPd MT menambahkan. Dengan kunjungan UnHan kali ini ke STT Migas, diharapkan dapat membuka peluang kerjasama penelitian dan pengabdian masyarakat. Misalkan tentang kesiapan Kaltim yang menjadi IKN baru dan kesiapan Balikpapan sebagai kota penyangga. Tentunya, banyak faktor – faktor yang perlu dikaji lebih mendalam tentang persiapan tersebut.
“Seperti penanganan konflik – konflik yang kemungkinan terjadi dimasyarakat kita. Terkait dampak sosial hingga lingkungannya,” pungkas Hamsir. (ami)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *